Jumat, 05 Juni 2015

Aku dan Mantan

He’s Coming after all..
Bagaimana pun caranya dia selalu bisa menemukan ku. Bagaimana pun caranya dia selalu bisa menghubungi ku. Ntah bagaimana caranya, ntah berapa banyak dia memasang mata di sekitar ku. Aku rasa apa pun yang aku lakukan itu semua percuma. Sejauh apapun aku mengghindar dan berusaha melupakan semua nya. Semua itu selalu kembali lagi pada ku dengan sendiri nya. Ntah itu dalam bentuk kebencian, rasa rindu, rasa gelisah, atau bahkan rasa putus asa. Namun satu hal yang pasti, sebuah perasaan itu selalu muncul. Bahwa takdir ku dan takdir nya tak akan berakhir sampai disini, sebesar apapun usaha kita berdua untuk memutuskan rantai takdir yang mengikat kita berdua. Aneh kan? Bagaimana mungkin aku bisa merasakan hal ini? Atau bagaimana mungkin aku bisa memiliki firasat seperti ini. Ntah masa depan apa yang akan kita jalani kelak. Tapi hal itu pasti, bahwa aku dan dia tidak akan pernah 100% saling melupakan. Takdir kita tidak akan terputus sebanyak 100%. Itu lah firasat ku.
                Hal ini lah yang sering membuat ku berpikir keras. Apa yang terjadi? Apakah benar firasat ini sebuah visi yang diberikan pada ku? Atau hanya aku saja yang kurang serius dalam mengakhiri semua nya. Apa pun itu, aku rasa Tuhan telah memilihkan jalan yang terbaik untuk ku. Meskipun aku harus tetap memilih, jalan mana yang akan ku tempuh. Aku harus siap dengan segala konsekuensi yang akan ku alami. Benarkan?
                Apa pun yang kita coba lakukan, semua itu akan sia-sia. Aku selalu berpikir bahwa hubungan baik bisa di miliki oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari hidup mu. Tapi saat aku menyadari betapa naif nya pemikiran ku ini, aku menjadi sadar,, bahwa berhubungan baik dengan seorang “mantan” itu hanya akan memiliki situasi yang sensitive, bagaimana punakhirnya.
                Aku berbeda dengan semua mantan-mantan ku, jika mereka bisa melupakan ku dengan mencari wanita lain… syukurlah,, (hanya itu yang bisa ku katakan). Karna aku tidak bisa melupakan mereka secepat itu, aku menyimpan mereka di dalam hati ku. Karena itu lah aku tidak bisa menerima pernyataan cinta seorang pria lain. Alih-alih untuk mengobati rasa sakit dalam hati karna di tinggal kekasih, atau baru putus dengan kekasih, aku mencari cinta lain melalui lelaki lain. Itu lah cara terbaik untuk menyingkir dari penderitaan patah hati. Tapi aku bukan orang yang seperti itu. Tak pernah sekali pun aku melakukan hal seperti itu kepada diri ku dan lelaki lain. Selama ini setiap aku putus dengan mantan ku, meski itu sakit dan meninggalkan penyesalan di dalam hati. “kenapa aku harus melakukan itu?” “kenapa aku tidak menjaga perasaan nya lebih baik?” atau “kenapa aku tidak bisa membahagiakan nya lebih baik lagi?” semua pemikiran yang menyatakan bahwa aku menyesal selalu datang begitu saja. Dan aku menikmati nya, aku menjadi kan semua itu sebagai sebuah hukuman bagi ku karena aku tidak bisa menjaga hati orang yang mencintai ku. Jadi seberat apa pun hari-hari yang ku lalui dengan kekosongan hati ini. Aku tetap menerima nya, tanpa meminta bantuan dari lelaki lain untuk mengisi hati ku.
                Ntah apa yang mereka pikirkan, mereka sering bilang bahwa aku adalah wanita kejam. Bahwa aku sudah menghancurkan kehidupan mereka. Kadang aku menerima perkataan mereka, tapi kadang aku juga menyangkal perkataan mereka, karna apa yang aku berikan pada mereka adalah apa yang mereka berikan juga pada ku. Hanya saja terkadang aku memberikan nya lebih dari apa yang mereka berikan pada ku. Jika mereka memberikan rasa sakit pada hati ku, maka aku memberikan rasa sakit yang lebih pada mereka, jika mereka memberikan ku kebahagiaan, maka aku memberikan mereka kebahagiaan yang lebih dari yang mereka berikan pada ku. Ntah bagaimana cara nya, ntah bagaimana upaya nya, tapi ini selalu berhasil dan berakhir seperti itu. Jika di pikir-pikir, aku tidak pernah merencanakan nya seperti ini, tapi semua nya selalu berjalan mengalir begitu saja. Dan selalu meninggalkan kesan seperti itu. Hahaha.. lucu kan? Karna hal ini lah salah satu mantan ku berkata “kamu memiliki kemampuan untuk membuat semua nya sesuai dengan keinginan mu, untuk membuat semua nya mengalir seperti air dan mengikuti arah mu dengan sendiri nya.” Aku anggap itu sebagai sebuah pujian. Tapi setelah mereka memujiku, mereka pasti mulai memaki ku atau memarahi ku, setelah mengatakan hal-hal yang tidak berguna, yang menggambarkan perasaan mereka.. lalu mereka mengharapkan bisa memulai hubungan lagi dengan ku. Di bagian ini lah yang lucu.
                Aku terlihat kejam kan? Ntah lah,, aku sendiri terkadang berpikir bahwa aku ini wanita kejam yang tak berperasaan. Tapi terkadang aku melihat diri ku sebagai sesosok wanita yang tangguh. Itu semua tergantung pada kalian yang menilai nya. Ya.. meski apa pun yang kalian pikirkan tentang ku, aku tipe orang yang tidak memperdulikan penilaian orang lain. Seperti yang kalian tahu, aku di besarkan dalam keluarga yang sangat menjaga nama baik. Dan untuk beberapa tahun aku di besarkan dalam keluarga seperti itu, aku merasa muak dan terkurung. Aku bukan tipe burung yang suka di kurung di sangkar emas. Kecuali di sangkar itu ada mall, dan café, atau tempat nongkrong, atau tempat membaca buku, atau tempat-tempat asik lainnya. Jika aku di tempat kan di sangkar seperti itu mungkin aku akan memikirkan nya lagi. Tapi tidak dengan keluarga ku, aku hanya terkurung di dalam sangkar emas yang kosong. Dan itu membuat ku muak. “lihat apa yang kamu lakukan bisa mengundang pemikiran orang lain” “lihat, apa yang kamu lakukan bisa merusak nama baik keluarga kita” atau yang paling sederhana adalah “apa yang orang lain pikirkan tentang keluarga kita, jika kamu bersikap seperti ini, dan bla blab la” semua hal yang mereka perdulikan adalah pandangan orang lain dan penilaian orang lain. Mereka terlalu terfokus akan kedua hal itu, sehingga mereka tidak menyadari keretakan apa yang terjadi di dalam keluarga. Mereka terlalu tergiur menjaga nama dan martabat keluarga sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sudah menghancurkan satu sama lain. Ya, itu benar. Keluarga ku hancur oleh keluarga ku sendiri. Jika dalam beberapa kasus suatu keluarga hancur karna kehadiran orang ketiga, tidak dengan keluarga ku… mereka menghancurkan diri mereka sendiri. Dari sini lah awal mula nya aku tidak memperdulikan penilaian orang lain, jadi terserah kalian mau menilai diri ku seperti apa.
                Dalam beberapa hari ini akutidak bisa menulis dan menyalurkan semua nya, itu kara aku tidak tahu harus mulai dari mana. Keinginan ku untuk mencurahkan semua nya selalu ada. Tapi aku tidak tau harus mulai dari mana. Maka dari itu, jika kali ini aku menulis terlalu banyak tolong maafkan lah, tapi terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca. Yang masih setia menemani kehidupan ku.
                Dalam kehidupan ku ada beberapa mantan yang sangat gigih, seperti yang aku gambar kan di atas.. harus kah aku beri tahu kalian nama nya? Apakah kalian ingin tahu? Mmm.. ntah lah, jika mereka membaca semua ini, aku tidak  tau apakah mereka akan merasa tersinggung atau terharu. Tapi saat aku menulis aku tidak bisa memikirkan hal lain selain menjadi diri ku sendiri. Aku menulis seolah-olah aku memiliki duina ku sendiri. Seru bukan? Hahaha karena itulah sebelum dan sesudah aku menulis aku tidak pernah membaca nya kembali. Apakah itu negative apa kah itu  positif aku hanya akan membiarkan nya pergi  dan terbaca oleh kalian. Aku anggap itu sebagai sebuah penebusan dosa, jika kalian membaca hal yang negative, tapi aku harap itu sebagai sebuah motifasi jika kalian membaca hal yang positif dari tulisan ku.
                Nama nya adalah Akhbar dan Deden. Untuk akhbar ini,, aku tidak terlalu mengingat kenangan ku dengan nya. Karna aku rasa hubungan ku dengan dia tidak di landasi dengan  cinta dan perasaan yang berasal dari hati. Ntah dengan dia tapi tak ernah sekali pun dalam hati ini aku merasakan cinta dan kasih sayang untuk nya, kecuali rasa belas kasihan. (jika dia membaca ini, tentunya dia akan sakit hati. Tapi yah,, peduli apa aku.. dia sudah sering mengatakan bahwa aku ini kejam dan menyakiti hati nya. Jadi apa pun yang aku katakana aku rasa itu tidak akan terlalu banyak mengubah hal yang sudah terjadi. Jadi yah, aku rasa lebih baik aku mengatakan apa ada nya. Dari pada berpura-pura baik dan dia berpikir bahwa aku memberikan dia harapan. Aku rasa itu adalah hal yang lebih kejam dari pada kata-kata kejam.) Dia,,, akhbar ini,,, belakangan ini menyalah gunakan kebaikan ku. Alih-alih menjaga hubungan baik sebagai seorang teman, aku melupakan kenyataan bahwa kita berdua ini adalah mantan. Hingga akhirnya aku merasa di manfaatkan atau merasa di tipu lebih tepat nya.. dia dengan pemikiran nya yang licik? Atau mungkin bisa di bilang cerdik? Dia telah mempertemukan ku dengan keluarga besarnya. Aku yang tidak tau apa—apa seolah-olah terjebak dalam sebuah aula besar yang isinya di penuhi dengan penonton. Aku seolah-olah menjadi sasaran dari tatapan mereka, satu-satu nya yang bisa ku lakukan adalah bersikap professional, jangan sampai aku menodai nama dia yang membawa ku, dan menodai nama ku sendiri. Jadi aku bersikap seolah-olah aku berada di samping nya. (lagi-lagi aku di manfaat kan seperti ini.. hhh… menyedihkan). Seumur aku menjalani sebuah hubungan tak pernah sekali pun aku menghadapi keluarga dari pasangan ku. Meskipun aku di undang dengan resmi, aku selalu bisa menghindari undangan itu dengan mengelak dan memberikan alasan yang dapat mereka terima. Tapi tak ku sangka aku akan menghadapi keluarga besar dari seorang mantan. Hhh menyebalkan, lewat kejadian ini aku merasa sangat menyesal. Kenapa keluarga laki-laki yg pertama ku temuii adalah keluarga akhbar, yang pada kenyataan nya dia tidak terlalu special di hati ku. Jika tau akhirnya akan seperti ini, aku rasa aku akan menerima ajakan pertemuan keluarga dari mantan ku yang lebih baik dari diri nya. Ahhh!!! Aku selalu memikirkan hal ini, dan bagaimana pun aku memikirkan nya.. aku tetap merasa di manfaatkan, dan tidak di hargai..
Apa lagi kalo memikirkan bahwa dia baru saja putus dari tunangan nya yang di tentang oleh keluarga nya, dia bilang bahwa dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari tunangan nya yang sebelumnya. Dan itu adalah aku? Ah ya ampun,, betapa kekanak-kanakan.. memang aku senang karena secara tidak langsung aku di anggap sebagai wanita yang berkualitas yang dapat di perhitungkan. Tapi aku rasa ukan ini yang aku inginkan,, jika melihat dari sisi pandang ini. Aku semakin merasa seperti di manfaatkan. Ah… ya ampun.. memikirkan hal ini aku tidak bisa berhenti menghela nafas dan menggeleng kan kepala, berharap pemikiran negative ini hilang dengan cepat.
                Mantan ku yang lain adalah deden, sampai sekarang aku tidak terlalu bisa menghafal identitas nya dengan benar. Moch.Abdurrahman? Moch.Abdulrahman? Deden Abdul Rohman? Moch Abdul Rahman Deden Gema Gemilang Sany? Ah ntah lah,, yang jelas nama panggilan dia hanya satu, ah tidak.. jika di pikir-pikir dia juga memiliki nama panggilan yang lumayan banyak, dari mulai nama panggilan kecil hingga nama panggilan aneh. Nde? Morvin? Gilank? Bintang? Ajo? Mmm.. apa lagi ya??? Ah terlalu banyak,, aku tidak bisa mengingat semua nya. Mungkin dia adalah satu-satu nya mantan yang tidak memiliki kehidupan yang jelas. Jika di lihat dari banyak nya nama yang dia gunakan. Mungkin orang awam akan mengiranya sebagai seorang buronan, atau mata-mata Negara seperti james bond? Ah tidak? James bond bahkan hanya memakai nama panggilan nya satu, tak peduli dia menjalani kasus sepeerti apa pun. Lalu apakah dia benar-benar seorang buronan?
Nttah lah? Aku berhubungan selama 4 tahun dengannya, tapi tak satu pun yang bisa ku verifikasi kan secara langsung. Yang aku tahu hanya lah semua cerita yang dia lontarkan dari mulut nya. Beberapa terdengar meyakinkan, tapi beberapa cerita lain terdengar di campur dengan dusta.
Tak peduli apa pun yang kami lakukan, setiap kami putus pasti kami akan kembali memulai hubungan. Ntah berapa kali hal itu terjadi, saking sering nya aku mulai bosan dan FLAT. Dan sekarang dia berada jauh di luar negeri, dan ini mungkin akan menjadi akhir dari hubungan kita, karena sekarang kita memiliki alasan yang kuat. Yaitu jarak. Dan satu hal yang pasti, dari sekian mantan yang aku miliki, hubungan dengan dialah yang paling sensitive.
Beberapa kali aku memblokir semua agar aku tidak bisa melihat dia lagi, atau agar dia tidak bisa menghubungi ku lagi. Tapi ntah bagaimana cara nya, dia selalu bisa menghubungi ku. Mungkin aku lah yang kurang berusaha menjauh dari nya.
Beberapa hari yang lalu dia menghubungi ku lagi, setelah 4 minggu dari kecelakaan lalu lintas itu terjadi, setelah beberapa bulan penyakit ku menjadi lebih serius. Dia datang dan menanyakan kabar ku. Ah!!! Rasanya aku lupa bagaimana rasanya membagi cerita dengan orang lain. Saat itu aku stress dan kesal. Maka dari itu aku memberikan apa yang dia inginkan. Aku menceritakan semua yang aku alami, kenapa aku bisa seperti ini, kenapa aku bisa memiliki penyakit seperti ini, kenapa aku bisa menderita sendiri, dan lain-lain. Semua yang aku ceritakan adalah hal yang menyedihkan. Karna aku memang belum mendapatkan kehidupan yang lebih baik, untuk sekarang. Lain ceritanya jika aku memiliki seseorang di samping ku, mungkin aku tidak akan menceritakan kondisi ku yang sekarang pada nya. Jujur saja saat aku menceritakan keadaan ku pada nya, aku merasa menyedihkan. Aku seperti meminta belas kasihan pada nya, atau membuat dia merasa bersalah? Tidak.. mungkin lebih tepat nya aku seperti meminta belas kasihan pada nya. Dan itu membuat ku semakin membernci nya.
Dia datang menghubungi ku dengan tiba-tiba. Mengajak ku untuk berhubungan dengan baik, dan bertingkah seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi. Dengan begitu aku dan dia bisa saling berbagi cerita satu sama lain. Tapi setelah aku membagi ceritaku, dia pergi tanpa kabar lagi. Hal ini terlihat begitu menyedihkan. Dia membuat ku menjadi seorang wanita yang terlihat menyedihkan.

Beberapa hari setelah aku menceritakan tentang kehidupan ku. Aku menerima kabar angina bahwa dia sudah memiliki wanita baru. Ntah kabar ini benar atau tidak, tapi aku rasa itu semua masuk akal. Ketika dia terus menerus menanyakan apakah aku sudah memiliki laki-laki lain pengganti dia atau belum. Maka aku menjawab apa yang ingin dia dengar. Karna aku tau, dia menanyakan hal itu untuk memastikan. Apakah baik-baik saja jika dia menjalin hubungan dengan wanita lain. Yah,, karna aku sudah memiliki lelaki lain juga, maka dia rasa tidak akan masalah jika dia memulai lembar baru dengan cinta baru, toh dia juga sudah memulai cerita baru dengan pria lain. Mungkin itu yang dia pikirkan. Hahaha bodoh!

Sabtu, 09 Mei 2015

Menyatukan Serpihan PUZZLE


Apa yang aku lakukan sekarang?
Kalian gk perlu tau.. karna sekarang aku hanya berdiam diri dan melamun. Memikirkan pecahan-pecahan puzzle yang sempat hilang di ingatan ku, pasca kecelakaan kemarin.
Dari keterangan beberapa teman, dan bukti luka di tubuh ku, serta serpihan ingatan ku yang samar-samar.
1.       Stank motor dan ban motor bengkok. Bengkok nya stank motor ke arah kiri dan ban motor ke arah
·         Aku berusaha mencampurkannya dengan ingatan yang aku miliki.
Waktu itu,, seingat ku aku sudah menghindar dari motor tersebut. Aku membantingkan stir ke arah kiri, mungkin karna itu lah stank motor ku bengkok ke arah kiri.
Namun ban ku bengkok ke arah kanan, mungkin saat aku membantingkan stir ku ke kiri itu sudah terlambat dan mungkin karna itu lah kecelakaan sampai bisa terjadi.
2.       Helm rusak
·         Bagian leher helm nya lepas, bahkan pinggiran helm nya terutama samping kiri, Lecet dan rusak, masih menjadi satu padu menjadi sebuah helm. Tapi lem nya sudah lepas dan menganga, terlihat tidak layak di pakai jika di tilik dari dekat. Tapi masih fungsional untuk menghindari polisi. hehehe
Yang aku ingat saat kejadian aku memakai helm, tapi selang beberapa saat setelah kecelakaan itu terjadi kepala ku sudah tidak memakai helm. Jadi mungkin saat kejadian, aku membantingkan diri ke arah kiri, lalu helm lepas dari kepala ku dengan sendiri nya karena ikatan helm tidak di pasang, jadi helm mudah lepas. Kemudian sebagai korban nya, kepala bagian kiri ku juga mengalami luka, memang tidak mengeluarkan darah tapi meninggalkan bekas di dahi dan itu lumayan sakit juga terlihat lebam. Kepala belakang ku tidak bisa di gerakkan dan sangat sakit ketika berusaha memindahkan posisi kepala, apa lagi menoleh atau menengadah. Akhirnya untuk beberapa saat aku diam dalam posisi menunduk. Saat di kelas aku mendunduk terus untuk mengurangi nyeri kepala yang aku rasakan. Sampai akhirnya dosen menyentuh pundak ku untuk memberikan jawaban dari pertanyaan nya, aku berusaha menengadah karena itu merupakan sebuah kewajiban untuk ku, karena itulah aku berusaha untuk menengadah. Tapi sebelum sempat melihat wajah dosen ku, pandangan ku sudah menjadi gelap dan BLANK.. aku gk ingat apa”..

Hal lain yang aku ingat saat itu adalah, perasaan-perasaan yang tidak nyaman. Aku ingat saat air masuk dari hidung ku. Mungkin itu air yang keluar dari selang oksigen yang di pakaikan di hidung ku. Karena saat tersadar aku terpasang selang oksigen.
Lalu aku ingat perasaan saat aku di goncangkan kesana kemari dengan kencang, dan itu membuat kepala ku semakin sakit juga mual. Aku ingin muntah rasanya. Ingin rasanya berkata “Hei hentikan, jangan berbuat kasar pada ku” Hhmm,,, tapi ntah lah.. aku tak terlalu ingat apakah aku sudah mengatakan seperti apa yang aku inginkan. Atau kata-kata yang ingin aku keluarkan hanya berakhir di telan tenggorokan.
Lalu… aku ingat saat banyak orang yang menanyai ku ini itu, memanggil nama ku, dan menyuruh ku untuk tetap tersadar. Aaahhhh… itu adalah bagian yang paling menyebalkan dan paling tidak ku sukai. Di samping aku tidak mengingat apa yang terjadi. Mereka terus saja menanyai hal yang tidak dapat ku ingat dengan seksama. Dan kalian tau, jika aku tidak menjawab nya aku rasa mereka (suara-suara) itu akan terus mengganggu ku. Jadi meskipun aku tidak punya tenaga untuk mengatakan nya. Tapi aku harus mengatakan nya.
Kalian penasaran kenapa aku bisa menceritakan semua ini seolah-olah aku tidak mengalami nya?
Butuh waktu satu minggu untuk bisa mengingat nya dan mengatakan hal seperti ini pada orang lain.
AAHHH!!!
Iya,, ada bagian yang luka yang selalu ku pandangi setiap saat. Bekas infusan yang sudah lebih dari satu minggu tapi masih belum hilang juga. Luka nya memang sudah mongering, tapi kulit ku seperti nya tidak mau beregenerasi, hingga sampai saat ini masih saja tidak hilang-hilang bekas tusukan nya. T_T.

Sabtu, 02 Mei 2015

Hari Tanpa Ingatan


         Hari itu aku kecelakaan, tidak sadarkan diri selama setengah hari. Begitu aku sadar aku sudah berada di sebuah ruangan putih yang berisik dan banyak manusia berjubah putih. Mereka begitu mengganggu ketenangan, ah ada satu lagi… tidak.. bahkan lebih dari satu.. yang teriak-teriak meminta tolong, bahkan ada pula yang teriak-teriak kesakitan.. segala usia.. dalam segala aspek.. mereka adalah pasien, dan yang berjubah putih itu adalah perawat serta dokter. Butuh beberapa menit untuk ku menyadari dimana aku sebenarnya.. sedang apa aku sebenar nya.. apa yang terjadi pada ku? Aku bahkan hampir tidak mengenali diri ku sendiri.
        Tapi untung nya ada kakak ku yang menghampiri, membuat ku semakin sadar pada kenyataan. Tapi itu tidak menjelaskan semua nya.. karena setelah satu pertanyaan terjawab, timbul pertanyaan lain yang menghampiri. Mereka menyerang seperti satu pasukan tanpa pandang bulu menghantam ku dengan sejuta pertanyaan. Melihat kakak ku yang tampak gelisah memandang keadaan ku yang terbaring lemas, meskipun dia bertanya banyak hal. Tapi aku tetap tidak bisa menjawab apa yang mereka tanyakan, otak ku masih mengorientasi keadaan sekitar, seperti ini dimana? Kenapa aku? Bagaimana bisa aku dalam keadaan seperti ini. Dan yang paling membuat ku frustasi adalah, mereka yang bertanya mengenai kejadian sebelum aku datang ke ruangan ini. Oh Ya tuhan,, aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa berada di ruangan ini. Lalu bagaimana mungkin aku bisa memberitahu mereka apa yang sebelum nya terjadi, akhirnya aku hanya bisa diam dan memaksa otak ku untuk mengingat kembali kejadian terakhir yang aku alami. Dan akhirnya keluarlah sebuah sketsa dalam ingatan ku. Mereka keluar satu persatu seperti potongan film yang di putar dengan preview.
        Aku hendak ke kampus, waktu itu menunjukkan pukul 6.30 pagi, hari kamis 30 April 2015. Menuju jalan setapak yang biasa ku lalui dengan motor kakak ku. Lalu tiba-tiba ada sebuah motor dengan bapak-bapak yang mengendarai nya menyebrang tepat di depan mata ku tanpa ada basa-basi terlebih dahulu, sontak aku kaget dan aku membunyikan klakson. Tapi ajaib nya, si motor B tersebut malah terdiam dan semakin menghalangi jalan ku, aku tidak bisa mengelak karna di sebelah kanan ku ada sebuah mobil avanza berwarna putih, sedangkan di samping kiri ku adalah sebuah trotoar dengan banyak orang yang berlalu lalang. Akhirnya dengan upaya semaksimal mungkin aku membantingkan motor ku ke arah kanan, sambil berharap tidak ada mobil yang melindas kepala ku. Tapi sayang nya upaya itu hilang seketika ketika aku merasa ada sebuah hantaman kuat yang memukul perut ku. Hantaman yang sangat kuat dan membuat ku hilang kesadaran dalam sepersekian detik. Helm ku ntah masih menempel di kepala atau sudah tergelinding ke arah lain, upaya untuk bangun dari posisi untuk menghindari roda mobil akhirnya hilang saat itu juga. Hal terakhir yang aku ingat adalah ada sebuah tangan yang memegang lengan ku dan menarik ku. Dalam kondisi itulah aku tidak bisa ingat apa pun lagi.
        Ntah berapa lama aku mengalami penurunan kesadaran, saat aku membuka mata aku sudah berada di pinggiran jalan, dengan ditemani oleh seorang bapak-bapak. Dia tampak memegang pundak ku sembari menopang tubuh ku, agar aku tidak tergetelak di jalanan. Satu hal yang aku ucapkan ketika aku membuka mata adalah “Maafkan saya pak” (dengan nada suara yang lemah) oh tidak betapa lemah dan memelasnya suara ku, apa yang terjadi? Serentak aku ingin berdiri dari keadaan itu, tapi wow.. sangat membuat ku kaget adalah sesuatu yang tidak ku inginkan, yang tidak ku sangka akan menjadi seperti ini. Pandangan ku kabur, bahkan melihat kaki ku sendiri pun seperti ada 3 bahkan lebih dari 3 pasang kaki. Mencoba melihat sekeliling tapi yang aku lihat hanyalah pandangan buram, oh tidak aku tidak bisa memaksakan diri. Aku kembali duduk dan tergeletak, rasa mual mulai menghampiri ku. Yang bisa ku lakukan dalam keadaan seperti itu adalah menarik nafas dalam dan melakukan relaksasi. Akhirnya aku bertekad mengumpulkan sisa-sisa tenaga cadangan ku. Aku berdiri dengan tekad itu, meskipun sempoyongan dan gemetaran aku memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.. seingat ku, aku lah yang menabrak motor B itu. Meskipun secara teknis mungkin dialah yang bersalah karena menyebrang sembarangan. Saat aku menghampiri lokasi kejadian, tampak warga yang mulai ribut menghakimi pengendara motor B itu. Dalam hati aku bersyukur, ternyata di dalam pandangan warga dan saksi sekitar pun, aku tidak bersalah. Dan jika di lihat dari kondisi nya, aku lah yang memegang peranan korban utama. Selain motor ku yang rajet. Tubuh ku pun terlihat rajet oleh mereka.
 Saat itu aku tidak mengerti maksud mereka mengatakan, bahwa aku harus ke rumah sakit. Bahwa aku adalah perawat dan tidak boleh meneruskan perjalanan untuk melanjutkan aktifitas. Karna aku memiliki jadwal yang padat dan harus ku penuhi. Aku tidak terlalu menggubris mereka. Aku hanya berkata “sudah pak, tidak apa-apa saya akan meneruskan perjalanan saya. Rumah sakit tempat saya bekerja pun sudah dekat, saya kira tidak apa-apa jika saya melakukan perjalanan saya” namun warga sekitar terus memaksa ku untuk istirahat dan pulang, namun aku bersikeras melanjutkan perjalanan. Dan salah satu warga berkata “neng, ini motor tidak akan bisa digunakan untuk perjalanan, kalau pun digunakan pasti akan berbahaya. Saya sarankan neng sekarang membawanya ke bengkel, dan neng sendiri pulang ke rumah” ntah apa yang merasuki pikiran ku, karna apa yang mereka katakana tidak lah dapat mengubah pikiran ku, bahwa aku harus segera pergi. Karna di mataku motor itu baik-baik saja dan aku pun masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan.
Semua pembicaraan dan perdebatan berakhir ketika aku memaksakan menyalakan motor dan pergi meneruskan perjalanan. Pandangan yang terakhir kali aku lihat di TKP adalah pengendara motor B yang masih di kelilingi oleh warga, dan warga itu sendiri yang melihat ku dengan pandangan miris. Ntah apa yang mereka pandangi. Aku tidak pedulikan itu semua, karna aku harus melanjutkan perjalanan ku. Masih banyak kewajiban yang harus aku laksanakan dan harus ku penuhi hari ini. Jika aku menghabiskan waktu disini, aku yakin aku tidak akan bisa memenuhi kewajiban ku dengan baik. Akhirnya aku pergi.
Ups,, selang beberapa meter dari TKP aku merasakan ada yang aneh dengan motor ku. “Ah iya, tadi kan sudah mereka bilang bahwa motor ku sedang dalam keadaan tidak baik” baiklah, kalau begitu aku akan mengendarai motor nya dengan pelan-pelan yang penting aku sampai tujuan.
Sesampainya aku di tujuan, seperti biasa aku memarkirkan motor dan menyimpan helm di tempat penitipan helm. Wow aku lihat sekejap bahwa helm ku sepertinya rusak. Bagian samping helm tampak sudah rajet tak karuan. Ah tapi masih bisa di pakai, aku rasa aku tidak perlu membeli yang baru. Langsung melangkahkan kaki untuk menuju lantai 3, karena sudah ada dosen yang menunggu ku untuk menghadiri kelas. Namun,,, perasaan aneh tiba-tiba muncul saat aku hendak menaiki anak tangga. Oh ya tuhan,, perasaan apa ini.. rasanya ada yang menarik ku. Keseimbangan ku mulai goyah. Melangkah dan melangkah,, menaiki satu persatu anak tangga.. akhirnya aku bisa sampai di kelas dengan selamat. Sesampainya di kelas, benar saja ternyata sudah tampak dosen untuk bersiap memulai pembelajaran. Aku melihat ke kursi yang paling belakang, oh ternyata masih ada yang kosong, otomatis aku hendak menghampiri kursi kosong itu. Tapi ntah lah begitu sampai di kelas aku merasa linglung. Sambil menyimak pertanyaan dari teman-teman ku, yang tampak khawatir dengan keadaan ku, aku hanya bisa menjawab sebisa ku untuk menghilangkan rasa penasaran mereka dan berharap mereka berhenti menanyai ku. Karna aku sendiri masih bingung apa yang terjadi sebenar nya, otak ku sendiri masih mencoba untuk mencerna semua yang terjadi.
Selang beberapa menit aku duduk dalam kursi belakang, dosen pun sudah memulai pengajaran nya. Oh tidak,, kepala ku rasanya tidak beres, mata ku mulai berkunang-kunang. Melihat tulisan dalam PPT yang di suguhkan dosen tampak begitu mengerikan, bukan satu atau dua huruf tapi mereka menciptakan banyak huruf dengan bayangan-bayangan yang besar dan menghalangi pandangan ku. Ah tidah tidak.,, ini tidak baik.. jika aku terus memaksa untuk melihat nya aku yakin aku akan muntah di tempat dan saat itu juga. Akhirnya aku hanya bisa menundukkan kepala, dan memejamkan mata. Berharap semua akan baik-baik saja ketika aku membuka mata kelak. Namun perasaan yang semakin aneh terus saja menghampiri ku, seolah-olah mereka ingin mengambil alih tubuh ku. Aku berusaha membuka mata namun tidak bisa, aku berusaha mengangkat kepala ku namun tidak bisa. Akhirnya dosen menghampiri ku dan menepuk pundak ku, dia menyuruh ku untuk pergi ke UKS. Aku menurut saja apa yang di perintahkan, karna aku rasa itu adalah ide yang bagus. Mungkin aku butuh tidur sejenak untuk memulihkan kondisi ku ini. Hhhh.. aku ingin segera berbaring dan tidur. Aku lelah dan pusing.. aku.. oh tidak.. kenapa ini??
Aku tidak bisa berdiri, aku hampir jatuh menghantam lantai. Ah syukur lah ada teman ku yang cekatan memegang lengan dan tubuh ku mencegah ku untuk tidak tergelak di lantai. Satu orang.. kemudian aku berjalan 3, 4, 5 langkah dan saat langkah yang kesekian kali nya aku mulai ambruk. Oh tidak!!! Ya tuhan apa yang terjadi.. tidak tidak.. ini tidak benar.. aku bisa.. aku harus berjalan.. kuat lah tubuh ku.. sampai di UKS saja,, baru kau boleh ambruk.. baru kau boleh tidur.. tapi jangan sekarang. Apa yang salah dengan mu!! Hah!!! Ayo kuat!!!
Sekarang dua orang yang membopong ku, dan aku berjalan keluar dari kelas. Ah bagus,, ayo teruskan tinggal turun menuju lantai bawah dan kamu bisa istirahat, aku yakin yang tubuh ku butuhkan hanyalah istirahat. Iya.. bagus ayo terus jalan.. oh tidak.. kenapa ini.. aa.. aa.. aku tidak bisa mengendalikan tubuh ku.. aku.. aku.. semua nya menjadi gelap.. hhh.. hhh.. lelah.. oh tidak.. aku tidak bisa mellihat apa pun..
Suara.. ya.. ada suara.. tampak nya mereka sedang berusaha membopong ku ke ruang UKS. Berapa orang?? 3?? 2?? Atau 4?? Ah ttidak tau.. aku tidak bisa melihatnya.. (---BLANK---) Ah!! Ada suara lagi!! Sepertinya aku sudah berada di ruang UKS sekarang, ah tidak lab gadar.. ada yang mengatakan nya.. apa ini di lab GADAR?? Suara pintu terbuka,, dan bruk.. sepertinya aku sudah berada di kasur.. ah syukurlah.. aku masih sadar.. trima kasih untuk kalian yang sudah mengantarkan ku. Tapi.. kenapa kalian begitu berisik.. aku ingin segera tidur.. aku ingin istirahat.. ayolah jangan berisik.
------BLANK-------
“Linda,, lin,, bangun lin,,, ayo buka mata kamu.” PLak Plak Plak,, siapa? Yang memukul wajah ku? Ahh Brisik!!! Pergilah aku ingin tidur.. seperti segerombolan lebah yang terus saja menyerang ku. Mereka menyuruh ku membuka mata ku, ok aku buka mata tapi ntah apa yang terjadi, sekeras apa pun aku membuka mata, tampak nya mereka tidak melihatt upaya ku untuk membuka mata. Mereka malah menyangka bahwa aku masih tidur dan tidak membuka mata. Beberapa orang mengatakan “Kita bawa saja ke UGD, ayo cepat”
Apa!!! UGD!!! Yang benar saja!! Hei aku baik-baik saja.. tolong jangan bawa aku ke UGD. Memangnya kalian pikir aku ini pasien apa?? Aku sehat saja dan aku masih sadar. Ah percuma, sekuat apa pun aku memberitahu mereka bahwa aku baik-baik saja, mulut ini tetap tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku katakana. Mata ini tidak bisa membuka seperti yang aku inginkan. Dan nafas ku sepertinya sudah di bantu oleh nasal canule.
------BLANK----- 
“Linda,, bangun lin.. saya tau kamu masih sadar. Ayo buka mata kamu. Jangan pura-pura tidur” ah syukur lah ada yang tau bahwa aku masih sadar. Tapi HEY!!! Apa maksud mu bahwa aku ini berpura-pura! Tidak sopan! Siapa yang ingin berada di keadaan seperti ini. Siapa yang tidak berdaya, dan siapa yang salah faham dengan kondisi ku. Padahal aku baik-baik saja tapi kenapa aku di bawa ke tempat seperti ini. Yang dingin dan semakin berisik. Ada yang mengatakan pula bahwa kamu adalah dokter. Apa aku dalam kondisi membutuhkan dokter?? Terus saja menanyai ku bagian mana yang sakit. Apa aku baik-baik  saja. Apa yang terjadi yang menyebabkan ku seperti ini. Ah tolong lah, ajukan pertanyaan kalian satu persatu. Aku ingin mengattakan nya. Tapi kenapa ini, apa yang menghentikan jalan bicara ku, seperti nya mulut ku ada yang mengganjal. Ah dagu.. di dagu ku ada sebuah busa.. apa ini?? Tidak lama kemudian ada seseorang yang berkata “colar neck, apa pasien ini mengalami trauma servical? Kenapa dia di pasang colar neck?” AHH,, ternyata yang menghalangi ku untuk berbicara adalah colar neck. Pantas saja aku kesulitan membuka mulut ku.
------BLANK-------
“Coba tolong buka baju nya, dan lepaskan pengikat Bra nya. Kita akan melakukan rontgen pada bagian dada” Oh seperti nya aku akan di jadikan bahan percobaan. Tidak jangan di buka seenak nya saja. Aku mohon jaga privasi ku. Tapi tetap saja, sama seperti sebelumnya. Upaya ku untuk berbicara tidak di dengar sama sekali. Menyebalkan.
-----BLANK-------
Lembut sekali,, tangan siapa ini.. aku membuka mata.. ah aku bisa melihat.. sepertinya aku sudah normal sekarang. Ah teteh.. teh lia.. kenapa teteh ada disini? Aku dimana? Apa yang terjadi? Ah apa ini di tangan ku? Nama siapa ini? Apa nama ku? Tanggal apa ini? Apa tanggal hari ini? Ah tidak, ini bukan tahun 97, ini tahun 2015. Lalu tanggal apa ini? Ah, apa ini yang menempel di tangan ku. Infusan?? Kenapa aku di infus?? Cairan apa ini?? Dextrose?? Mmhh.. sepertinya aku dalam perawatan.. melihat kondisi ku ternyata aku berada dalam brankar pasien, membuat ku semakin yakin bahwa aku ini seorang pasien. Hal yang pertama ku keluarkan adalah “jam berapa ini?