Hari itu aku kecelakaan, tidak sadarkan diri selama setengah hari. Begitu aku sadar aku sudah berada di sebuah ruangan putih yang berisik dan banyak manusia berjubah putih. Mereka begitu mengganggu ketenangan, ah ada satu lagi… tidak.. bahkan lebih dari satu.. yang teriak-teriak meminta tolong, bahkan ada pula yang teriak-teriak kesakitan.. segala usia.. dalam segala aspek.. mereka adalah pasien, dan yang berjubah putih itu adalah perawat serta dokter. Butuh beberapa menit untuk ku menyadari dimana aku sebenarnya.. sedang apa aku sebenar nya.. apa yang terjadi pada ku? Aku bahkan hampir tidak mengenali diri ku sendiri.
Tapi untung nya ada kakak ku yang menghampiri, membuat ku semakin sadar pada kenyataan. Tapi itu tidak menjelaskan semua nya.. karena setelah satu pertanyaan terjawab, timbul pertanyaan lain yang menghampiri. Mereka menyerang seperti satu pasukan tanpa pandang bulu menghantam ku dengan sejuta pertanyaan. Melihat kakak ku yang tampak gelisah memandang keadaan ku yang terbaring lemas, meskipun dia bertanya banyak hal. Tapi aku tetap tidak bisa menjawab apa yang mereka tanyakan, otak ku masih mengorientasi keadaan sekitar, seperti ini dimana? Kenapa aku? Bagaimana bisa aku dalam keadaan seperti ini. Dan yang paling membuat ku frustasi adalah, mereka yang bertanya mengenai kejadian sebelum aku datang ke ruangan ini. Oh Ya tuhan,, aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa berada di ruangan ini. Lalu bagaimana mungkin aku bisa memberitahu mereka apa yang sebelum nya terjadi, akhirnya aku hanya bisa diam dan memaksa otak ku untuk mengingat kembali kejadian terakhir yang aku alami. Dan akhirnya keluarlah sebuah sketsa dalam ingatan ku. Mereka keluar satu persatu seperti potongan film yang di putar dengan preview.
Aku hendak ke kampus, waktu itu menunjukkan pukul 6.30 pagi, hari kamis 30 April 2015. Menuju jalan setapak yang biasa ku lalui dengan motor kakak ku. Lalu tiba-tiba ada sebuah motor dengan bapak-bapak yang mengendarai nya menyebrang tepat di depan mata ku tanpa ada basa-basi terlebih dahulu, sontak aku kaget dan aku membunyikan klakson. Tapi ajaib nya, si motor B tersebut malah terdiam dan semakin menghalangi jalan ku, aku tidak bisa mengelak karna di sebelah kanan ku ada sebuah mobil avanza berwarna putih, sedangkan di samping kiri ku adalah sebuah trotoar dengan banyak orang yang berlalu lalang. Akhirnya dengan upaya semaksimal mungkin aku membantingkan motor ku ke arah kanan, sambil berharap tidak ada mobil yang melindas kepala ku. Tapi sayang nya upaya itu hilang seketika ketika aku merasa ada sebuah hantaman kuat yang memukul perut ku. Hantaman yang sangat kuat dan membuat ku hilang kesadaran dalam sepersekian detik. Helm ku ntah masih menempel di kepala atau sudah tergelinding ke arah lain, upaya untuk bangun dari posisi untuk menghindari roda mobil akhirnya hilang saat itu juga. Hal terakhir yang aku ingat adalah ada sebuah tangan yang memegang lengan ku dan menarik ku. Dalam kondisi itulah aku tidak bisa ingat apa pun lagi.
Ntah berapa lama aku mengalami penurunan kesadaran, saat aku membuka mata aku sudah berada di pinggiran jalan, dengan ditemani oleh seorang bapak-bapak. Dia tampak memegang pundak ku sembari menopang tubuh ku, agar aku tidak tergetelak di jalanan. Satu hal yang aku ucapkan ketika aku membuka mata adalah “Maafkan saya pak” (dengan nada suara yang lemah) oh tidak betapa lemah dan memelasnya suara ku, apa yang terjadi? Serentak aku ingin berdiri dari keadaan itu, tapi wow.. sangat membuat ku kaget adalah sesuatu yang tidak ku inginkan, yang tidak ku sangka akan menjadi seperti ini. Pandangan ku kabur, bahkan melihat kaki ku sendiri pun seperti ada 3 bahkan lebih dari 3 pasang kaki. Mencoba melihat sekeliling tapi yang aku lihat hanyalah pandangan buram, oh tidak aku tidak bisa memaksakan diri. Aku kembali duduk dan tergeletak, rasa mual mulai menghampiri ku. Yang bisa ku lakukan dalam keadaan seperti itu adalah menarik nafas dalam dan melakukan relaksasi. Akhirnya aku bertekad mengumpulkan sisa-sisa tenaga cadangan ku. Aku berdiri dengan tekad itu, meskipun sempoyongan dan gemetaran aku memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.. seingat ku, aku lah yang menabrak motor B itu. Meskipun secara teknis mungkin dialah yang bersalah karena menyebrang sembarangan. Saat aku menghampiri lokasi kejadian, tampak warga yang mulai ribut menghakimi pengendara motor B itu. Dalam hati aku bersyukur, ternyata di dalam pandangan warga dan saksi sekitar pun, aku tidak bersalah. Dan jika di lihat dari kondisi nya, aku lah yang memegang peranan korban utama. Selain motor ku yang rajet. Tubuh ku pun terlihat rajet oleh mereka.
Saat itu aku tidak mengerti maksud mereka mengatakan, bahwa aku harus ke rumah sakit. Bahwa aku adalah perawat dan tidak boleh meneruskan perjalanan untuk melanjutkan aktifitas. Karna aku memiliki jadwal yang padat dan harus ku penuhi. Aku tidak terlalu menggubris mereka. Aku hanya berkata “sudah pak, tidak apa-apa saya akan meneruskan perjalanan saya. Rumah sakit tempat saya bekerja pun sudah dekat, saya kira tidak apa-apa jika saya melakukan perjalanan saya” namun warga sekitar terus memaksa ku untuk istirahat dan pulang, namun aku bersikeras melanjutkan perjalanan. Dan salah satu warga berkata “neng, ini motor tidak akan bisa digunakan untuk perjalanan, kalau pun digunakan pasti akan berbahaya. Saya sarankan neng sekarang membawanya ke bengkel, dan neng sendiri pulang ke rumah” ntah apa yang merasuki pikiran ku, karna apa yang mereka katakana tidak lah dapat mengubah pikiran ku, bahwa aku harus segera pergi. Karna di mataku motor itu baik-baik saja dan aku pun masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan.
Semua pembicaraan dan perdebatan berakhir ketika aku memaksakan menyalakan motor dan pergi meneruskan perjalanan. Pandangan yang terakhir kali aku lihat di TKP adalah pengendara motor B yang masih di kelilingi oleh warga, dan warga itu sendiri yang melihat ku dengan pandangan miris. Ntah apa yang mereka pandangi. Aku tidak pedulikan itu semua, karna aku harus melanjutkan perjalanan ku. Masih banyak kewajiban yang harus aku laksanakan dan harus ku penuhi hari ini. Jika aku menghabiskan waktu disini, aku yakin aku tidak akan bisa memenuhi kewajiban ku dengan baik. Akhirnya aku pergi.
Ups,, selang beberapa meter dari TKP aku merasakan ada yang aneh dengan motor ku. “Ah iya, tadi kan sudah mereka bilang bahwa motor ku sedang dalam keadaan tidak baik” baiklah, kalau begitu aku akan mengendarai motor nya dengan pelan-pelan yang penting aku sampai tujuan.
Sesampainya aku di tujuan, seperti biasa aku memarkirkan motor dan menyimpan helm di tempat penitipan helm. Wow aku lihat sekejap bahwa helm ku sepertinya rusak. Bagian samping helm tampak sudah rajet tak karuan. Ah tapi masih bisa di pakai, aku rasa aku tidak perlu membeli yang baru. Langsung melangkahkan kaki untuk menuju lantai 3, karena sudah ada dosen yang menunggu ku untuk menghadiri kelas. Namun,,, perasaan aneh tiba-tiba muncul saat aku hendak menaiki anak tangga. Oh ya tuhan,, perasaan apa ini.. rasanya ada yang menarik ku. Keseimbangan ku mulai goyah. Melangkah dan melangkah,, menaiki satu persatu anak tangga.. akhirnya aku bisa sampai di kelas dengan selamat. Sesampainya di kelas, benar saja ternyata sudah tampak dosen untuk bersiap memulai pembelajaran. Aku melihat ke kursi yang paling belakang, oh ternyata masih ada yang kosong, otomatis aku hendak menghampiri kursi kosong itu. Tapi ntah lah begitu sampai di kelas aku merasa linglung. Sambil menyimak pertanyaan dari teman-teman ku, yang tampak khawatir dengan keadaan ku, aku hanya bisa menjawab sebisa ku untuk menghilangkan rasa penasaran mereka dan berharap mereka berhenti menanyai ku. Karna aku sendiri masih bingung apa yang terjadi sebenar nya, otak ku sendiri masih mencoba untuk mencerna semua yang terjadi.
Selang beberapa menit aku duduk dalam kursi belakang, dosen pun sudah memulai pengajaran nya. Oh tidak,, kepala ku rasanya tidak beres, mata ku mulai berkunang-kunang. Melihat tulisan dalam PPT yang di suguhkan dosen tampak begitu mengerikan, bukan satu atau dua huruf tapi mereka menciptakan banyak huruf dengan bayangan-bayangan yang besar dan menghalangi pandangan ku. Ah tidah tidak.,, ini tidak baik.. jika aku terus memaksa untuk melihat nya aku yakin aku akan muntah di tempat dan saat itu juga. Akhirnya aku hanya bisa menundukkan kepala, dan memejamkan mata. Berharap semua akan baik-baik saja ketika aku membuka mata kelak. Namun perasaan yang semakin aneh terus saja menghampiri ku, seolah-olah mereka ingin mengambil alih tubuh ku. Aku berusaha membuka mata namun tidak bisa, aku berusaha mengangkat kepala ku namun tidak bisa. Akhirnya dosen menghampiri ku dan menepuk pundak ku, dia menyuruh ku untuk pergi ke UKS. Aku menurut saja apa yang di perintahkan, karna aku rasa itu adalah ide yang bagus. Mungkin aku butuh tidur sejenak untuk memulihkan kondisi ku ini. Hhhh.. aku ingin segera berbaring dan tidur. Aku lelah dan pusing.. aku.. oh tidak.. kenapa ini??
Aku tidak bisa berdiri, aku hampir jatuh menghantam lantai. Ah syukur lah ada teman ku yang cekatan memegang lengan dan tubuh ku mencegah ku untuk tidak tergelak di lantai. Satu orang.. kemudian aku berjalan 3, 4, 5 langkah dan saat langkah yang kesekian kali nya aku mulai ambruk. Oh tidak!!! Ya tuhan apa yang terjadi.. tidak tidak.. ini tidak benar.. aku bisa.. aku harus berjalan.. kuat lah tubuh ku.. sampai di UKS saja,, baru kau boleh ambruk.. baru kau boleh tidur.. tapi jangan sekarang. Apa yang salah dengan mu!! Hah!!! Ayo kuat!!!
Sekarang dua orang yang membopong ku, dan aku berjalan keluar dari kelas. Ah bagus,, ayo teruskan tinggal turun menuju lantai bawah dan kamu bisa istirahat, aku yakin yang tubuh ku butuhkan hanyalah istirahat. Iya.. bagus ayo terus jalan.. oh tidak.. kenapa ini.. aa.. aa.. aku tidak bisa mengendalikan tubuh ku.. aku.. aku.. semua nya menjadi gelap.. hhh.. hhh.. lelah.. oh tidak.. aku tidak bisa mellihat apa pun..
Suara.. ya.. ada suara.. tampak nya mereka sedang berusaha membopong ku ke ruang UKS. Berapa orang?? 3?? 2?? Atau 4?? Ah ttidak tau.. aku tidak bisa melihatnya.. (---BLANK---) Ah!! Ada suara lagi!! Sepertinya aku sudah berada di ruang UKS sekarang, ah tidak lab gadar.. ada yang mengatakan nya.. apa ini di lab GADAR?? Suara pintu terbuka,, dan bruk.. sepertinya aku sudah berada di kasur.. ah syukurlah.. aku masih sadar.. trima kasih untuk kalian yang sudah mengantarkan ku. Tapi.. kenapa kalian begitu berisik.. aku ingin segera tidur.. aku ingin istirahat.. ayolah jangan berisik.
“Linda,, lin,, bangun lin,,, ayo buka mata kamu.” PLak Plak Plak,, siapa? Yang memukul wajah ku? Ahh Brisik!!! Pergilah aku ingin tidur.. seperti segerombolan lebah yang terus saja menyerang ku. Mereka menyuruh ku membuka mata ku, ok aku buka mata tapi ntah apa yang terjadi, sekeras apa pun aku membuka mata, tampak nya mereka tidak melihatt upaya ku untuk membuka mata. Mereka malah menyangka bahwa aku masih tidur dan tidak membuka mata. Beberapa orang mengatakan “Kita bawa saja ke UGD, ayo cepat”
Apa!!! UGD!!! Yang benar saja!! Hei aku baik-baik saja.. tolong jangan bawa aku ke UGD. Memangnya kalian pikir aku ini pasien apa?? Aku sehat saja dan aku masih sadar. Ah percuma, sekuat apa pun aku memberitahu mereka bahwa aku baik-baik saja, mulut ini tetap tidak bisa mengatakan apa yang ingin aku katakana. Mata ini tidak bisa membuka seperti yang aku inginkan. Dan nafas ku sepertinya sudah di bantu oleh nasal canule.
“Linda,, bangun lin.. saya tau kamu masih sadar. Ayo buka mata kamu. Jangan pura-pura tidur” ah syukur lah ada yang tau bahwa aku masih sadar. Tapi HEY!!! Apa maksud mu bahwa aku ini berpura-pura! Tidak sopan! Siapa yang ingin berada di keadaan seperti ini. Siapa yang tidak berdaya, dan siapa yang salah faham dengan kondisi ku. Padahal aku baik-baik saja tapi kenapa aku di bawa ke tempat seperti ini. Yang dingin dan semakin berisik. Ada yang mengatakan pula bahwa kamu adalah dokter. Apa aku dalam kondisi membutuhkan dokter?? Terus saja menanyai ku bagian mana yang sakit. Apa aku baik-baik saja. Apa yang terjadi yang menyebabkan ku seperti ini. Ah tolong lah, ajukan pertanyaan kalian satu persatu. Aku ingin mengattakan nya. Tapi kenapa ini, apa yang menghentikan jalan bicara ku, seperti nya mulut ku ada yang mengganjal. Ah dagu.. di dagu ku ada sebuah busa.. apa ini?? Tidak lama kemudian ada seseorang yang berkata “colar neck, apa pasien ini mengalami trauma servical? Kenapa dia di pasang colar neck?” AHH,, ternyata yang menghalangi ku untuk berbicara adalah colar neck. Pantas saja aku kesulitan membuka mulut ku.
“Coba tolong buka baju nya, dan lepaskan pengikat Bra nya. Kita akan melakukan rontgen pada bagian dada” Oh seperti nya aku akan di jadikan bahan percobaan. Tidak jangan di buka seenak nya saja. Aku mohon jaga privasi ku. Tapi tetap saja, sama seperti sebelumnya. Upaya ku untuk berbicara tidak di dengar sama sekali. Menyebalkan.
Lembut sekali,, tangan siapa ini.. aku membuka mata.. ah aku bisa melihat.. sepertinya aku sudah normal sekarang. Ah teteh.. teh lia.. kenapa teteh ada disini? Aku dimana? Apa yang terjadi? Ah apa ini di tangan ku? Nama siapa ini? Apa nama ku? Tanggal apa ini? Apa tanggal hari ini? Ah tidak, ini bukan tahun 97, ini tahun 2015. Lalu tanggal apa ini? Ah, apa ini yang menempel di tangan ku. Infusan?? Kenapa aku di infus?? Cairan apa ini?? Dextrose?? Mmhh.. sepertinya aku dalam perawatan.. melihat kondisi ku ternyata aku berada dalam brankar pasien, membuat ku semakin yakin bahwa aku ini seorang pasien. Hal yang pertama ku keluarkan adalah “jam berapa ini?