Sabtu, 26 Juli 2014

Pembicaraan 1

Kenapa kalian cuma mikir amplop dan harga diri. Kenapa gk mikir dari sudut pandang lain. Apa cuma itu yang bisa kalian pikirkan. Bukan cara untuk menyatukan keluarga ini. Tapi hal ini, justru yang semakin membuat keluarga ini hancur. Hal yang seperti ini. Mau sampai kapan kalian mementingkan ego dan harga diri kalian. Kemana sikap saling menghargai dan menghormati antar pihak keluarga. Kalian, sibuk dengan dugaan-dugaan yang belum bisa diyakini kebenarannya! Kalian harus tau, di tengah kesibukan kalian. Ada jiwa tak berdosa yang tersakiti. Mereka semua yang jadi korban berusaha mati-matian untuk tetap hidup meski menangis meraung-raung. Meski tersiksa oleh kesendiran, diserang rasa hampa. Iya, kalian memang bijak. Selalu bisa melihat sisi buruk di setiap kesempatan. Melihat kesalahan di setiap tindakan. Kalian semua orang dewasa dan memiliki pemikiran yang lebih luas serta pengalaman yang lebih banyak. Anak kecil seperti ku, tidak bisa menandingi pemikiran kalian. Aku harus banyak belajar. Supaya kelak saat aku mencapai tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Aku bisa sebijak kalian semua. Kalian panutan hidup ku. Katakan jika pemikiran ku salah. Maka aku akan memperbaiki nya. Aku masih belum punya kekuatan yang cukup untuk berdiri di tengah-tengah. Kemana aku harus berpegang di saat kedua sisi ku jurang semua. Karna itu lah, aku gk bisa membuka diri pada orang lain. Membiarkan diriku menangis di depan mereka. Hanya akan membuat mereka merasa simpati (kasihan) pada ku. Melihat hal itu, bukan lah suatu hal yang menyenangkan bahwa ada orang yang bisa sedikitnya memahami penderitaan dan kesedihan kita. Melainkan sebuah kenyataan bahwa hidup ku begitu menyedihkan. Melalui mereka yang ikut menangis setelah mendengar kisah ku. Aku tersadar dan merasa bahwa hidup ku amat menyedihkan. Sepintas dalam hati selalu berkata. "Jangan menangis! Aku mohon jangan menangis di depan ku! Jangan mengeluarkan kata-kata memilukan seolah-olah ini adalah akhir dari semua nya" "aku menceritakan kisah ku bukan untuk di tangisi atau pun di beri belas kasihan. Aku mohon, hentikan semua itu. Jangan seperti ini. Tolong keluarkan sebuah kata yang bisa membantu ku keluar dari penyiksaan ini" Untuk menutupi kenyataan bahwa hidup ku menyedihkan. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum dan bertingkah seolah-olah kehidupan ku baik-baik saja, tak ada yang perlu di tangisi. Hingga orang luar tidak akan menyangka bahwa sebenarnya di balik wujud manusia yang diberikan oleh Tuhan dengan wadah yang sempurna ini, terdapat jiwa yang amat rapuh, rusak tak berbekas Dengan jiwa yang babak belur penuh luka. Jiwa ku merasa tak mungkin bisa berdiri maupun bernapas. Dan suatu saat, ketika aku menemukan seseorang untuk berbagi. Dia tetap tak percaya dan kembali membuat ku seolah-olah tukang pembohong dan pengada-ngada cerita. Hingga akhirnya aku kembali menyendiri. Di bunuh rasa kesepian karna tak ada orang yang mengerti. Tapi apa!? Yang ku lakukan tidak lebih dari sebuah kebohongan. Pada akhirnya, aku sendiri yang harus mengontrol psikologi ku agar tak menjadi seseorang yang berbau negatif. Yang aku takutkan. Aku berdiri dengan pendirian yang ku buat sendiri. Berpegang dengan pemikiran ku sendiri. Tanpa ku sadari bahwa pendirian dan pemikiran ku itu semua adalah salah. Aku takut akan hal itu. Di lihat dari sisi ini, terbukti betapa kekanak-anakan nya aku. Tak tau mana yang benar dan yang salah. Berusaha menjadi seorang yang dewasa dengan menanggung semua nya sendiri. Padahal aku tak kurang dan tak lebih hanya seorang anak kecil. Kemana aku bisa mencari seorang pembimbing, kemana aku bisa mencari seorang guru. Di saat semua orang di sekitar ku seperti itu.